Sunday, May 31, 2020

E-Mentoring

                    E-mentoring

E-mentoring telah dianggap sebagai memberikan kesempatan untuk memberikan dukungan, bertukar informasi praktis, dan mengalami hubungan yang dapat diterima dengan mudah. Shpigelman et al. (2009) menyelidiki salah satu program yang dirancang untuk digunakan oleh kaum muda dengan melihat kebutuhan pendidikan khusus. Dukungan sosial dan emosional diberikan oleh mentor yang cacat untuk anak-anak cacat yang berusia 15-20 tahun. Temuan kualitatif menunjukkan bahwa program ini memiliki hasil positif untuk pengembangan pribadi dan pemberdayaan kaum muda. Shpigelman dan Gill (2013) melanjutkan untuk menguraikan aspek-aspek yang tidak berhasil dari program e-mentoring untuk membantu menginformasikan pekerjaan masa depan dari jenis ini, menunjukkan bahwa komunikasi yang lebih informal dan suportif dipandang lebih sukses dibandingkan dengan komunikasi yang lebih formal dengan suara yang bernada.

Analisis: E-mentoring saat ini banyak digunakan karena seiring dengan berjalannya waktu teknologi semakin canggih. mentor sendiri adalah proses pembinaan secara akademit terkait pengetahuan yang ada yang dilakukan oleh 2 orang atau yang dimana salah satu dari mereka akan menjadi mentor yang akan memberikan pengetahuan terkait bidang apapun dan sisanya akan menjadi mentee atau yang akan mendengarkan dan juga memahami pembelajaran yang akan dilakukan mentor. menurut teori psikologi belajar mentoring adalah salah satu cara yang sangat praktis dalam mengajarkan sesuatu yang tidak dipahami karena dengan mentoring seseorang dengan bebas dapat bergantian dalam memberikan ilmunya dalam satu kelompok tersebut dengan baik. sehingga tidak monoton pada satu orang saja yang memberikan pembelajaran dan juga binaan. pada saat ini pula teknologi yang semakin menciptakan suatu inovasi mentroing yaitu E-mentoring yang dimana belajar lebih praktis dengan e mentoring karena tidak selalu untuk dalam satu kondisi yang sama. meskipun beda tempat dengan adanya e mentoring tetap bisa dilaksanakan mentoring dengan via online. dan terbukti dengan e mentoring lebih praktis dan efektif tanpa harus datang satu lokasi untuk melakukan mentoring.

 



Sunday, May 24, 2020

Gaya Kognitif Lintas Budaya

             Dalam teori kognisi lintas budaya , Faiola dan Matei (2006) mengusulkan bahwa individu membawa gaya kognitif mereka yang terikat secara budaya, yang telah dipengaruhi dan dipelajari melalui dampak sosial dan budaya, ke dalam aktivitas online mereka. Gaya kognitif mencerminkan pemikiran individu dan pola pemrosesan yang digunakan oleh orang untuk memahami, menafsirkan, dan merespons lingkungan mereka. Ada banyak segi pada gaya kognitif ini, dari proses analitik ke proses emosional, dan dari penalaran deduktif (yaitu, memperoleh alasan dengan mengevaluasi informasi secara logis) hingga memproses informasi secara heuristik. Teori kognisi budaya menangkap perbedaan budaya dalam jenis tugas kognitif ini (lihat juga Nisbett & Norenzayan, 2002; Nisbett et al., 2001). Ini mengusulkan bahwa cara orang berpikir, merasakan, dan menanggapi lingkungan mereka merupakan gaya kognitif yang didasarkan pada respons sosial yang dipelajari dari interaksi sosial dan komunikasi dengan orang lain dalam budaya tertentu. 

Analisis: dari Artikel diatas menunjukkan bahwa ada suatu teori yang berkaitan dengan teori Kognitif. Teori ini adalah Teori Kognitif Lintas Budaya dimana Teori ini dalam psikologi memang sangat berkaitan dengan apa yang dipikirkan oleh manusia. teori ini mengangkat tentang pemikiran yang sudah muncul dari seseorang adanya keterkaitan antara diri manusia dengan budaya yang di yakininya. dalam psikologi pemikiran memang terpengaruh dari banyak hal mulai dari eksternal dan internal. teori tersebut termasuk dari pemikiran eksternal yang muncul dari luar. karena hal inilah teori kognitif budaya memacu dirina untuk memikirkan hal-hal yang sudah ada dalam pikiran karena adanya campur tangan budaya. seperti di jaman sekarang sudah serba internet yang membuat pemikiran dengan menggunakan media komunikasi secara verbal maupun non verbal akan mendapatkan output yang berbeda.